Sabtu, 03 November 2012
Rabbi...
Tak mengapa bila semua hambaMu melupakanku
Asal jangan Engkau yang berpaling dariku

Rabbi...
Aku hidup untukMu
Aku lemah tanpaMu
Rabu, 24 Oktober 2012

Cintanya Berat di Nenek


Ikatan hati di antara mereka meluruhkan kemilau dunia. Tak sekedip pun matanya silau oleh rayuannya. Hati mereka telah bersatu padu. Selangkah tak ingin beranjak. Meski terkadang derai air mata bahkan caci maki sering menjadi sarapan pagi, tak menyurutkan cinta di hatinya. 

Hari ini ada yang menawarkan pekerjaan yang menjanjikan dari suami temanku untuk kakakku tersayang. Sangat menggiurkan untuk sebuah pencapaian karir. Tanpa pikir panjang langsung saja ku iya kan. Setelah itu baru kutelepon kakak dan mengabarkan semuanya. Dia menyambut suka cita dan penuh semangat. Semua berjalan lancar. Aku menanti saat pertemuan kami di istana tercinta. 

Alangkah terkejutnya diriku mendengar jawaban darinya. Penjabaran yang begitu menyentuh dan menambah kekagumanku padanya. Sangat sederhana sekali. Dia menolak pekerjaan baru karena tidak ingin pisah dari nenek. Orangtua bosnya yang selama ini diurusnya dengan baik. Tidak penting seberapa besar gaji yang dijanjikan. Si Nenek telah menempati ruang spesial di hati kakak. Dan itu tidak terganti oleh apapun. 


Selasa, 23 Oktober 2012

Sosialisasi Pilkada Provsu 2012

Bersama Mbak Fauziah dari Bakesbang Pol Linmas Provsu

Dihadiri oleh Bapak Wakil Bupati Labuhanbatu dan jajarannya


Senin, 22 Oktober 2012

Wajah di Balik Do'a



Kala itu 4 September sendu. Awan gelap bak cendawan raksasa memenuhi cakrawala, sedikit pun tidak memberi tempat bagi langit biru dan matahari pagi cerah. Berpacu dengan waktu berharap sang hujan bisa menahan kerinduannya pada bumi hingga aku sampai di tempat pengabdian. Ada janji yang harus ditunaikan pagi ini. Sama halnya dengan kakak. Segunung proyek sudah menantinya dan harus diselesaikan sebelum tanggal 15 September. Bergegas dengan penuh semangat melangkahkan kaki dengan harapan semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Mencium tangan kedua orangtua sembari memohon doanya. “Hati-hati di jalan ya Nang”. Itulah yang biasa terucap dari lisan mereka.

Suasana alam tidak menunjukkan kalau pagi itu sudah pukul 7 pagi. Seolah-olah masih Subuh. Gelap. Bahkan abang becak pun ragu. Benarkah ada yang melambaikan tangan? Karena kabut menutupi benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya merelakan diri berjalan agak lebih jauh untuk memastikan kamilah yang melambaikan tangan itu.

“Aku ragu mau jalan. Kukira bukan kamu yang memanggil. Lagian tumben sepagi ini sudah berangkat kerja. Mungkin yang lain masih pada tidur.” Bang Becak mengekspresikan keheranannya pada kami.
“Iya Bang, ada banyak kerjaan yang menanti di kantor. Lagian mau hujan. Tar kalau sudah hujan payah keluarnya.” Jawabku meluruskan.

Becak melaju menyusuri jalanan. Kutengadahkan wajah ke langit. Sepertinya awan tidak sanggup menahan rong-rongan air hujan untuk minta dicurahkan ke bumi. Betul sekali. Begitu kakak turun karena sudah sampai ke tujuan. Selangkah becak melaju, hujan pun turun tanpa kompromi. Seketika pakaian dinasku dikerumuni butiran air dari langit. Basah. Alhamdulillah tas berisi laptop tidak terjangkau terpaan mereka. Bang Becak segera mengembangkan tenda, memastikan semua aman terkendali dan kami pun berangkat. Sampai di kantor sepi. Belum ada yang hadir. Hah, memang aku yang kepagian datangnya kali. Ditambah cuaca dan kondisi alam yang mendukung, yang lain pada tarik selimut lagi dah. Tidak masalah belum ada yang datang. Karena misi hari ini membereskan dokumen yang belum terselesaikan dan merapikan bahan presentasi acara Pelatihan Tanggap Darurat Pemadam Kebakaran di PT PLN (PERSERO) Area Rantauprapat.

Sembari menunggu hasil cetakan dokumen, aku pun menunaikan aktifitas yang menjadi kebutuhan setiap harinya. Dhuha. Kali ini begitu spesial. Suasana begitu sendu, ditemani derasnya hujan membasahi bumi pertiwi. Sama derasnya seperti butiran-butiran hangat yang beraturan keluar dari kelopak mataku. Betapa bersyukurnya diri ini diciptakan dengan segala kenikmatan yang diberikanNya. Memiliki orang-orang yang sangat mencintai. Di waktu Dhuha ini doaku terpusat pada dua sahabat tercinta. Aku sangat merindukan mereka. Padahal kemarin jalan bersama keliling bertiga naik becak. Membayangkan wajah mereka semakin dalam semakin mengalirkan anak sungai yang deras. Hari ini hujan mengiringi si Bungsu berangkat ke Medan. Untuk satu perjuangan demi masa depan. Kalau dia lulus, berarti dia akan meninggalkan Rantauprapat juga aku. Semakin lah isak tangis membuncah. 

Bergulir ke wajah si Tengah. Aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik sebagai kakaknya. Begitu pelik problematika hidupnya. Inginku membagi pundakku untuk memikul sebagian beban hidupnya. Aku malu padanya.

Kepastian Suatu Masa

Masa itu pasti akan segera datang.
 Tidak tau kapan, tapi itu adalah suatu keniscayaan.
 Dan tanpa diundang, air terjun kecil ini mengalir deras tak terbendung. 
Apa yang sudah disiapkan untuk bekal kesana?
 Begitu banyak bintik-bintik noda menempel. Keruh berdebu.
 Semoga hujan menghapus semua hingga berakhir dalam bening.
Sabtu, 06 Oktober 2012

Sisa Tiga


Kalau Pak Suhari Pane, Wakil Bupati Labuhanbatu menghadiri suatu acara terkhusus acara anak muda, hal yang paling dinanti adalah motivasi dan doorprizenya. Seperti acara Pembentukan Rohis di SMA N 1 Rantau Selatan hari ini. Beliau tampil bersahaja memberikan motivasi tak terperi kepada adik-adik. Dan tak lupa membawa oleh-oleh setumpuk buku untuk dibagikan sebagai doorprize.

Tersisa tiga buku (Meminang PSK, Gilalova dan Lewat Sini Mister!) dan ini akan dibagikan saat mentoring pekan depan. Begitulah cara Pak Hari membumikan minat membaca di hati para remaja, pemuda harapan bangsa.


Jumat, 05 Oktober 2012

Pembelaan



Di bawah sinar bulan purnama, berbincang tentang pohon impian penuh cinta bersama keluarga. Suasana hangat seperti ini jarang terjadi. Kecuali mati lampu atau televisi rusak. Tak ingin beranjak pergi apalagi tak peduli. Asyik mendengarkan celotehan ayah. Ada saja bahan untuk dijadikan guyonan. Hingga rembulan pun enggan kembali ke peraduannya meski malam sudah semakin larut. Obrolan kami sejenak terhenti. Terdengar suara benda jatuh yang dari gayanya menimpa atap rumah kami. Sangat kuat terdengar dan kami langsung berhamburan ke sumber suara. Yang pertama sampai ayah.
            “Kan betul. Seng kita bocor. Pasti duriannya yang jatuh ini.”
Kami yang mendengarnya saling berpandangan. Khawatir ayah marah. Dan anehnya ayah sama sekali tidak marah melihat kejadian ini. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Tapi obrolan kami berakhir sampai disitu. Karena ayah pergi ke rumah temannya.
            “Perasaan mamak gak enak lo Nin. Jantungnya berdebar-debar terus. Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk.”
“Perasaan Mamak sajanya itu. Yaudah, baca Surat An-Nass dan Ayat Kursi aja Mak. Kadang setan suka sekali menggoda kita yang sedang galau.” Sambil kuelus punggung mamak menenangkan. Tak lama kemudian mamak sudah berlayar di pulau kapuk. Begitu tenang tanpa beban. Tulang pipinya semakin keriput dan kendur. Menggambarkan perjuangan hidup membesarkan kami anaknya. Memberi kehidupan, sekolah yang layak dan kebahagiaan. Demi sebuah pengharapan. Ah, betapa aku mencintainya. Kupeluk ia erat-erat hingga aku tertidur.
***
Pagiku cerahku, matahari tersenyum lebar. Mempersiapkan peralatan perang sebagai bentuk pengabdianku pada negara. Laptop, mukena, mushaf, dan alat tulis sudah berkumpul di tas doraku. Semangat banget hari ini. Menyelesaikan dua lagu untuk membersihkan badan. Satu lagu untuk berhias. Anehnya ada suara tambahan yang tidak asing memanggilku dari depan rumah.
            “Nina,,,,, Ayah mu Nin....”
Betul. Mamak memanggilku. Apa yang terjadi sampai suara mamak sedahsyat itu. Tanpa pikir panjang, kusambar jilbab yang terdekat. Tancap gas menuju sumber suara. Tak kuhiraukan kerikil-kerikil tajam menggoda telapak kaki ku. Ternyata benar. Firasat mamak tadi malam tidak meleset.
            “Ayah,,,,” kulihat ayah sudah ngamuk dan menjerit-jerit di rumah tetangga. Langsung kupeluk erat tubuhnya yang besar.
            “Ayah,,,,jangan marah,,,,malu sama Allah,,,,istighfar Yah,,,,”kupeluk erat-erat tubuh Ayah, kucium pipinya dan tak henti kulafadzkan istigfar di telinganya.
            “Biarkan,,,,biar semua orang tau betapa sakitnya disepelekan. Sudah lama kupendam kecewa ini. Tak satu pun yang mau peduli. Tolong,,,,,tolong,,,,,,tolong,,,,,,” Ayah menjerit sejadinya sambil melempari rumah kami. “Atau kuhancurkan saja rumah ku biar kalian senang. Tolong,,,,tolong,,,,, kek mana la kalau durian itu jatuh terus kena anak dan istri ku yang lagi tidur? Bisa mati mereka....” Emosi ayah semakin memuncak. Aku tetap memeluknya dan beristghfar di telinganya. Tubuhku tak mampu menahan kuatnya rong-rongan ayah. Tapi semangatku membara. Mengalahkan segala kelemahanku. Dan akhirnya ayah terduduk lemas tak berdaya karena melihat wajahku yang pucat pasih menahan guncangan batin yang begitu dahsyat. Kebesaran cinta mengalahkan egonya. Allah mengulurkan tangannya untuk kami. Meski campur marah, ayah berhasil kugiring pulang.
            Sepanjang jalan ayah terus mengamuk dan melempari rumah kami. Seketika kakak sudah berada di kaki ayah dan memohon agar ayah tidak mengamuk lagi. Tapi ayah tak menghiraukannya. Sampai kakak pingsan di jalan. Lunglai tak berdaya, barulah ayah diam seribu bahasa.
            “Tengok lah itu anak mu Bang. Mati la dia itu. Gak ada sayang Abang sama anak-anak ya.” tangis mamak meledak saat melihat kakak pingsan. Ayah terdiam. Tak mampu berkata. Kakak digotong rame-rame oleh para tetangga. Sementara aku masih tetap memeluk ayah. Khawatir dia pergi lagi. Sekarang yang ada di rumah ayah, mamak, aku, kakak, pak Kepling dan wak Banun tetangga kami. Kakak belum sadarkan diri.
            “Tolong lah Pak Kepling, aku mau besok sudah ditebang itu pohon. Sudah pernahnya kubilang sama Bapak. Bahkan sudah kusalam pun pak Lurah. Minta tolong kebijakan dari Lurah atas kasus pohon Durian yang sangat meresahkan jiwa kami.”
            “Iya Mas. Sudah saya bilang sama yang punya durian untuk menebang pohonnya.”
            “Sempat gak ditebangnya besok, jangan salahkan aku membunuh mereka ya Pak.  kubilang atas perintah Pak Kepling dan Pak Lurah. Bapak tengoklah. Yang rajinannya aku. Disuruh apapun aku patuh. Tapi ini lah balasan Bapak.” Terpaksa ayah mengungkit semuanya.
            “Jangan begitu la Mas. Saya janji akan menyelesaikan masalah ini.”
            “Cobalah misalnya ini terjadi pada Bapak. Nyawa anak istri Bapak terancam setiap hari. Berharap durian itu tidak jatuh di malam hari. Sakit rasanya disepelekan Pak. Apa karena kami orang tak punya? Sehingga suara kami tidak didengar?”
            “Saya paham Mas. Saya akan selesaikan ini secepatnya.” Pak Kepling menenangkan.
            “Yaudah, buatkanlah dulu air manis untuk kakakmu Nin. Kasian dia lemas kali Ayah tengok.” Peduli juganya ayah pada keadaan kakak yang seperti kapas putih tak berwarna.   
            Segera kulaksanakan perintahnya. Menuju ruang 3 x 3 yang serba guna. Kutuang air hangat ke cangkir, kutambahkan beberapa sendok gula. Kuaduk hingga larut. Kupastikan kembali kalau airnya sudah siap diminum kakak.
            “Kak, ini air gulanya. Diminum ya biar kak lebih baikan.”
            “Gak mau. Aku puasa. Aku dah gak apa-apa kok. Aku gak tahan aja menyaksikan dan mendengar keributan seperti ini. Aku malu. Hik hik hik.” Sambil menangis kakak mengenang kejadian tadi.
            “Udah jangan dipikirkan lagi. Memang seperti itulah ayah kita. Unik. Dan tidak ada duanya di dunia ini. Kakak pergi kerja juga ni?”
            “Iya la ya. Nina aja yang di rumah jagain ayah ya. Nanti ayah ngamuk lagi gak ada yang menenangkan.” Rayuan maut kakak membuatku luluh. Kuurungkan niatku untuk ngantor hari ini. 
            Sejauh pantauanku, ayah masih aman dan tidak menunjukkan gelagat yang mecurigakan. Sepertinya amarahnya sudah mulai mereda. Mungkin karena besok pohon durian dan pohon-pohon lainnya sesuai perjanjian akan ditebang. Seharian terus-menerus mengintai kemana pun ayah pergi. Sampai ayah tidur pun aku disebelahnya mendampingi. Bulir-bulir bening mengalir deras dari mataku saat memandangnya. Betapa aku mencintainya dan bangga memiliki ayah sepertinya. Begitu besar kasih sayang dan pengorbanannya untuk kami anak-anaknya. Terutama untukku. Segala kebutuhanku sekuat daya upaya dipenuhinya. Bersuara keras pun tak pernah. Tapi kalau keluarganya tersakiti, terancam dan terzhalimi, dia terdepan membela. Tak perduli harga dirinya tergadaikan. Aku setuju dengan tindakannya hari ini. Dengan begitu semua mata terbuka untuk menyelesaikan masalah ini. Kuakui cara ayah yang sangat anarkis memporak porandakan ketenangan tetangga pagi ini. Terus kupandangi hidung mancung, janggut putih berserak, rambut hitam lurus, badan kekar dan kulit keriput hitam legam itu. Kenangan indah bersamanya satu persatu melintas seperti slide show powerpoint saat presentasi. Bulir-bulir bening itu berubah jadi anak sungai yang membanjiri wajahku. Kelopak pun tak mampu membendung. Dan memaksaku memejamkannya hingga akhirnya semua gelap.
***
            Semua masalah yang singgah adalah ujian dari Allah untuk mentarbiyah diriku menjadi insan yang lebih kuat. Seperti selepas malam pasti akan hadir siang. Yang penting menggunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum semua lepas dari genggaman. Badai pasti berlalu. Udara cerah, awan putih, binar-binar mentari di langit biru menyapaku saat jendela kubuka. Suara sinso dari penebang pohon menambah merdu nyanyian pagi.
            ”Yah, pohon duriannya sudah mulai ditebang tu. Gak ada durian runtuh lagi ni kan Yah? Aman.” Sapaku pada ayah yang serius mengamati kerja penebang pohon.
            “Tunggu ngamuk pula orang baru la dikerjakan.”
            “Ayah suka kali marah-marah. Kalau Ayah marah, jantung Nina mau copot rasanya.”
            “Jalur diplomasi udah ayah buatnya. Datang ayah ke kantor Lurah. Ayah tunggu kebijakannya. Tak juga diproses. Sampe semalam tu jatuh lagi duriannya. Untung kita belum tidur. Bocor lagi seng kita. Apa tanggung jawab mereka? Ayah sudah cukup sabar menjaga hati untuk tidak ngamuk-ngamuk lagi. Dan ini tidak bisa ditunggu lagi. Ayah hanya ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Itu saja.” Ayah kembali mengenang peristiwa itu. Aku jadi speachless. Ayahku ayahku.
            “Karena sayangnya Ayah pada kalian, Ayah rela menahan malu dan berjuang untuk keselamatan kalian keluarga Ayah.” Mata ayah berkaca-kaca meluapkan isi hatinya.
            Itulah ayahku. Selalu ada sensasi baru yang disajikannya. Apapun adanya dirinya kukan tetap setia menjadi anaknya. Kali ini melalui amukan ayah dan pembelaannya, Allah kembali menyentuh hati ini. Seringkali disaat lemah dan takut barulah merengek-rengek lari kepadaNya. Begitu datang rasa aman kembali melenggang dalam lupa. Berdo’a pun seadanya. Bahkan terkadang lupa menyebutkan nama-nama orang yang dicintai masuk dalam do’a. Lupa memohon kelembutan hati untuk ayah. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Jendela kehidupan, pohon impian dan awan pengharapan bisa diukir dalam rangkaian kebahagiaan.

                                                                                                            Oleh : Maya Sebrina

Gambar tema oleh andynwt. Diberdayakan oleh Blogger.

Download

 

© My Shape, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography