Kala itu 4 September
sendu. Awan gelap bak cendawan raksasa memenuhi cakrawala, sedikit pun tidak
memberi tempat bagi langit biru dan matahari pagi cerah. Berpacu dengan waktu
berharap sang hujan bisa menahan kerinduannya pada bumi hingga aku sampai di tempat
pengabdian. Ada janji yang harus ditunaikan pagi ini. Sama halnya dengan kakak.
Segunung proyek sudah menantinya dan harus diselesaikan sebelum tanggal 15
September. Bergegas dengan penuh semangat melangkahkan kaki dengan harapan
semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Mencium tangan kedua orangtua
sembari memohon doanya. “Hati-hati di jalan ya Nang”. Itulah yang biasa terucap
dari lisan mereka.
Suasana alam tidak
menunjukkan kalau pagi itu sudah pukul 7 pagi. Seolah-olah masih Subuh. Gelap.
Bahkan abang becak pun ragu. Benarkah ada yang melambaikan tangan? Karena kabut
menutupi benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya merelakan diri berjalan
agak lebih jauh untuk memastikan kamilah yang melambaikan tangan itu.
“Aku ragu mau jalan.
Kukira bukan kamu yang memanggil. Lagian tumben sepagi ini sudah berangkat
kerja. Mungkin yang lain masih pada tidur.” Bang Becak mengekspresikan
keheranannya pada kami.
“Iya Bang, ada banyak
kerjaan yang menanti di kantor. Lagian mau hujan. Tar kalau sudah hujan payah
keluarnya.” Jawabku meluruskan.
Becak melaju menyusuri
jalanan. Kutengadahkan wajah ke langit. Sepertinya awan tidak sanggup menahan
rong-rongan air hujan untuk minta dicurahkan ke bumi. Betul sekali. Begitu
kakak turun karena sudah sampai ke tujuan. Selangkah becak melaju, hujan pun
turun tanpa kompromi. Seketika pakaian dinasku dikerumuni butiran air dari
langit. Basah. Alhamdulillah tas berisi laptop tidak terjangkau terpaan mereka.
Bang Becak segera mengembangkan tenda, memastikan semua aman terkendali dan
kami pun berangkat. Sampai di kantor sepi. Belum ada yang hadir. Hah, memang
aku yang kepagian datangnya kali. Ditambah cuaca dan kondisi alam yang
mendukung, yang lain pada tarik selimut lagi dah. Tidak masalah belum ada yang
datang. Karena misi hari ini membereskan dokumen yang belum terselesaikan dan
merapikan bahan presentasi acara Pelatihan Tanggap Darurat Pemadam Kebakaran di
PT PLN (PERSERO) Area Rantauprapat.
Sembari menunggu hasil
cetakan dokumen, aku pun menunaikan aktifitas yang menjadi kebutuhan setiap
harinya. Dhuha. Kali ini begitu spesial. Suasana begitu sendu, ditemani
derasnya hujan membasahi bumi pertiwi. Sama derasnya seperti butiran-butiran
hangat yang beraturan keluar dari kelopak mataku. Betapa bersyukurnya diri ini
diciptakan dengan segala kenikmatan yang diberikanNya. Memiliki orang-orang
yang sangat mencintai. Di waktu Dhuha ini doaku terpusat pada dua sahabat
tercinta. Aku sangat merindukan mereka. Padahal kemarin jalan bersama keliling
bertiga naik becak. Membayangkan wajah mereka semakin dalam semakin mengalirkan
anak sungai yang deras. Hari ini hujan mengiringi si Bungsu berangkat ke Medan.
Untuk satu perjuangan demi masa depan. Kalau dia lulus, berarti dia akan
meninggalkan Rantauprapat juga aku. Semakin lah isak tangis membuncah.
Bergulir
ke wajah si Tengah. Aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik sebagai
kakaknya. Begitu pelik problematika hidupnya. Inginku membagi pundakku untuk
memikul sebagian beban hidupnya. Aku malu padanya.


0 komentar:
Posting Komentar