Senin, 22 Oktober 2012

Wajah di Balik Do'a



Kala itu 4 September sendu. Awan gelap bak cendawan raksasa memenuhi cakrawala, sedikit pun tidak memberi tempat bagi langit biru dan matahari pagi cerah. Berpacu dengan waktu berharap sang hujan bisa menahan kerinduannya pada bumi hingga aku sampai di tempat pengabdian. Ada janji yang harus ditunaikan pagi ini. Sama halnya dengan kakak. Segunung proyek sudah menantinya dan harus diselesaikan sebelum tanggal 15 September. Bergegas dengan penuh semangat melangkahkan kaki dengan harapan semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Mencium tangan kedua orangtua sembari memohon doanya. “Hati-hati di jalan ya Nang”. Itulah yang biasa terucap dari lisan mereka.

Suasana alam tidak menunjukkan kalau pagi itu sudah pukul 7 pagi. Seolah-olah masih Subuh. Gelap. Bahkan abang becak pun ragu. Benarkah ada yang melambaikan tangan? Karena kabut menutupi benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya merelakan diri berjalan agak lebih jauh untuk memastikan kamilah yang melambaikan tangan itu.

“Aku ragu mau jalan. Kukira bukan kamu yang memanggil. Lagian tumben sepagi ini sudah berangkat kerja. Mungkin yang lain masih pada tidur.” Bang Becak mengekspresikan keheranannya pada kami.
“Iya Bang, ada banyak kerjaan yang menanti di kantor. Lagian mau hujan. Tar kalau sudah hujan payah keluarnya.” Jawabku meluruskan.

Becak melaju menyusuri jalanan. Kutengadahkan wajah ke langit. Sepertinya awan tidak sanggup menahan rong-rongan air hujan untuk minta dicurahkan ke bumi. Betul sekali. Begitu kakak turun karena sudah sampai ke tujuan. Selangkah becak melaju, hujan pun turun tanpa kompromi. Seketika pakaian dinasku dikerumuni butiran air dari langit. Basah. Alhamdulillah tas berisi laptop tidak terjangkau terpaan mereka. Bang Becak segera mengembangkan tenda, memastikan semua aman terkendali dan kami pun berangkat. Sampai di kantor sepi. Belum ada yang hadir. Hah, memang aku yang kepagian datangnya kali. Ditambah cuaca dan kondisi alam yang mendukung, yang lain pada tarik selimut lagi dah. Tidak masalah belum ada yang datang. Karena misi hari ini membereskan dokumen yang belum terselesaikan dan merapikan bahan presentasi acara Pelatihan Tanggap Darurat Pemadam Kebakaran di PT PLN (PERSERO) Area Rantauprapat.

Sembari menunggu hasil cetakan dokumen, aku pun menunaikan aktifitas yang menjadi kebutuhan setiap harinya. Dhuha. Kali ini begitu spesial. Suasana begitu sendu, ditemani derasnya hujan membasahi bumi pertiwi. Sama derasnya seperti butiran-butiran hangat yang beraturan keluar dari kelopak mataku. Betapa bersyukurnya diri ini diciptakan dengan segala kenikmatan yang diberikanNya. Memiliki orang-orang yang sangat mencintai. Di waktu Dhuha ini doaku terpusat pada dua sahabat tercinta. Aku sangat merindukan mereka. Padahal kemarin jalan bersama keliling bertiga naik becak. Membayangkan wajah mereka semakin dalam semakin mengalirkan anak sungai yang deras. Hari ini hujan mengiringi si Bungsu berangkat ke Medan. Untuk satu perjuangan demi masa depan. Kalau dia lulus, berarti dia akan meninggalkan Rantauprapat juga aku. Semakin lah isak tangis membuncah. 

Bergulir ke wajah si Tengah. Aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik sebagai kakaknya. Begitu pelik problematika hidupnya. Inginku membagi pundakku untuk memikul sebagian beban hidupnya. Aku malu padanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Gambar tema oleh andynwt. Diberdayakan oleh Blogger.

Download

 

© My Shape, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography