Di bawah sinar bulan
purnama, berbincang tentang pohon impian penuh cinta bersama keluarga. Suasana
hangat seperti ini jarang terjadi. Kecuali mati lampu atau televisi rusak. Tak
ingin beranjak pergi apalagi tak peduli. Asyik mendengarkan celotehan ayah. Ada
saja bahan untuk dijadikan guyonan.
Hingga rembulan pun enggan kembali ke peraduannya meski malam sudah semakin
larut. Obrolan kami sejenak terhenti. Terdengar suara benda jatuh yang dari
gayanya menimpa atap rumah kami. Sangat kuat terdengar dan kami langsung
berhamburan ke sumber suara. Yang pertama sampai ayah.
“Kan
betul. Seng kita bocor. Pasti duriannya yang jatuh ini.”
Kami yang mendengarnya
saling berpandangan. Khawatir ayah marah. Dan anehnya ayah sama sekali tidak
marah melihat kejadian ini. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Tapi obrolan
kami berakhir sampai disitu. Karena ayah pergi ke rumah temannya.
“Perasaan
mamak gak enak lo Nin. Jantungnya berdebar-debar terus. Seperti akan terjadi
sesuatu yang buruk.”
“Perasaan Mamak sajanya
itu. Yaudah, baca Surat An-Nass dan Ayat Kursi aja Mak. Kadang setan suka
sekali menggoda kita yang sedang galau.”
Sambil kuelus punggung mamak menenangkan. Tak lama kemudian mamak sudah
berlayar di pulau kapuk. Begitu tenang tanpa beban. Tulang pipinya semakin
keriput dan kendur. Menggambarkan
perjuangan hidup membesarkan kami anaknya. Memberi kehidupan, sekolah yang
layak dan kebahagiaan. Demi sebuah pengharapan. Ah, betapa aku mencintainya.
Kupeluk ia erat-erat hingga aku tertidur.
***
Pagiku cerahku,
matahari tersenyum lebar. Mempersiapkan peralatan perang sebagai bentuk
pengabdianku pada negara. Laptop, mukena, mushaf, dan alat tulis sudah
berkumpul di tas doraku. Semangat banget hari ini. Menyelesaikan dua lagu untuk
membersihkan badan. Satu lagu untuk berhias. Anehnya ada suara tambahan yang
tidak asing memanggilku dari depan rumah.
“Nina,,,,,
Ayah mu Nin....”
Betul. Mamak
memanggilku. Apa yang terjadi sampai suara mamak sedahsyat itu. Tanpa pikir
panjang, kusambar jilbab yang terdekat. Tancap gas menuju sumber suara. Tak
kuhiraukan kerikil-kerikil tajam menggoda telapak kaki ku. Ternyata benar.
Firasat mamak tadi malam tidak meleset.
“Ayah,,,,”
kulihat ayah sudah ngamuk dan menjerit-jerit di rumah tetangga. Langsung
kupeluk erat tubuhnya yang besar.
“Ayah,,,,jangan
marah,,,,malu sama Allah,,,,istighfar Yah,,,,”kupeluk erat-erat tubuh Ayah,
kucium pipinya dan tak henti kulafadzkan istigfar di telinganya.
“Biarkan,,,,biar
semua orang tau betapa sakitnya disepelekan. Sudah lama kupendam kecewa ini.
Tak satu pun yang mau peduli. Tolong,,,,,tolong,,,,,,tolong,,,,,,” Ayah
menjerit sejadinya sambil melempari rumah kami. “Atau kuhancurkan saja rumah ku
biar kalian senang. Tolong,,,,tolong,,,,, kek mana la kalau durian itu jatuh
terus kena anak dan istri ku yang lagi tidur? Bisa mati mereka....” Emosi ayah
semakin memuncak. Aku tetap memeluknya dan beristghfar di telinganya. Tubuhku
tak mampu menahan kuatnya rong-rongan
ayah. Tapi semangatku membara. Mengalahkan segala kelemahanku. Dan akhirnya
ayah terduduk lemas tak berdaya karena melihat wajahku yang pucat pasih menahan
guncangan batin yang begitu dahsyat. Kebesaran cinta mengalahkan egonya. Allah
mengulurkan tangannya untuk kami. Meski campur marah, ayah berhasil kugiring
pulang.
Sepanjang
jalan ayah terus mengamuk dan melempari rumah kami. Seketika kakak sudah berada
di kaki ayah dan memohon agar ayah tidak mengamuk lagi. Tapi ayah tak
menghiraukannya. Sampai kakak pingsan di jalan. Lunglai tak berdaya, barulah
ayah diam seribu bahasa.
“Tengok
lah itu anak mu Bang. Mati la dia itu. Gak ada sayang Abang sama anak-anak ya.”
tangis mamak meledak saat melihat kakak pingsan. Ayah terdiam. Tak mampu
berkata. Kakak digotong rame-rame oleh para tetangga. Sementara aku masih tetap
memeluk ayah. Khawatir dia pergi lagi. Sekarang yang ada di rumah ayah, mamak,
aku, kakak, pak Kepling dan wak Banun tetangga kami. Kakak belum sadarkan diri.
“Tolong
lah Pak Kepling, aku mau besok sudah ditebang itu pohon. Sudah pernahnya
kubilang sama Bapak. Bahkan sudah kusalam pun pak Lurah. Minta tolong kebijakan
dari Lurah atas kasus pohon Durian yang sangat meresahkan jiwa kami.”
“Iya
Mas. Sudah saya bilang sama yang punya durian untuk menebang pohonnya.”
“Sempat
gak ditebangnya besok, jangan salahkan aku membunuh mereka ya Pak. kubilang atas perintah Pak Kepling dan Pak
Lurah. Bapak tengoklah. Yang rajinannya aku. Disuruh apapun aku patuh. Tapi ini
lah balasan Bapak.” Terpaksa ayah mengungkit semuanya.
“Jangan
begitu la Mas. Saya janji akan menyelesaikan masalah ini.”
“Cobalah
misalnya ini terjadi pada Bapak. Nyawa anak istri Bapak terancam setiap hari.
Berharap durian itu tidak jatuh di malam hari. Sakit rasanya disepelekan Pak.
Apa karena kami orang tak punya? Sehingga suara kami tidak didengar?”
“Saya
paham Mas. Saya akan selesaikan ini secepatnya.” Pak Kepling menenangkan.
“Yaudah,
buatkanlah dulu air manis untuk kakakmu Nin. Kasian dia lemas kali Ayah tengok.”
Peduli juganya ayah pada keadaan kakak yang seperti kapas putih tak berwarna.
Segera
kulaksanakan perintahnya. Menuju ruang 3 x 3 yang serba guna. Kutuang air
hangat ke cangkir, kutambahkan beberapa sendok gula. Kuaduk hingga larut.
Kupastikan kembali kalau airnya sudah siap diminum kakak.
“Kak,
ini air gulanya. Diminum ya biar kak lebih baikan.”
“Gak
mau. Aku puasa. Aku dah gak apa-apa kok. Aku gak tahan aja menyaksikan dan
mendengar keributan seperti ini. Aku malu. Hik hik hik.” Sambil menangis kakak
mengenang kejadian tadi.
“Udah
jangan dipikirkan lagi. Memang seperti itulah ayah kita. Unik. Dan tidak ada
duanya di dunia ini. Kakak pergi kerja juga ni?”
“Iya
la ya. Nina aja yang di rumah jagain ayah ya. Nanti ayah ngamuk lagi gak ada
yang menenangkan.” Rayuan maut kakak membuatku luluh. Kuurungkan niatku untuk
ngantor hari ini.
Sejauh
pantauanku, ayah masih aman dan tidak menunjukkan gelagat yang mecurigakan.
Sepertinya amarahnya sudah mulai mereda. Mungkin karena besok pohon durian dan
pohon-pohon lainnya sesuai perjanjian akan ditebang. Seharian terus-menerus
mengintai kemana pun ayah pergi. Sampai ayah tidur pun aku disebelahnya
mendampingi. Bulir-bulir bening mengalir deras dari mataku saat memandangnya.
Betapa aku mencintainya dan bangga memiliki ayah sepertinya. Begitu besar kasih
sayang dan pengorbanannya untuk kami anak-anaknya. Terutama untukku. Segala
kebutuhanku sekuat daya upaya dipenuhinya. Bersuara keras pun tak pernah. Tapi
kalau keluarganya tersakiti, terancam dan terzhalimi, dia terdepan membela. Tak
perduli harga dirinya tergadaikan. Aku setuju dengan tindakannya hari ini. Dengan
begitu semua mata terbuka untuk menyelesaikan masalah ini. Kuakui cara ayah
yang sangat anarkis memporak porandakan ketenangan tetangga pagi ini. Terus
kupandangi hidung mancung, janggut putih berserak, rambut hitam lurus, badan
kekar dan kulit keriput hitam legam itu. Kenangan indah bersamanya satu persatu
melintas seperti slide show powerpoint
saat presentasi. Bulir-bulir bening itu berubah jadi anak sungai yang
membanjiri wajahku. Kelopak pun tak mampu membendung. Dan memaksaku
memejamkannya hingga akhirnya semua gelap.
***
Semua
masalah yang singgah adalah ujian dari Allah untuk mentarbiyah diriku menjadi
insan yang lebih kuat. Seperti selepas malam pasti akan hadir siang. Yang
penting menggunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum semua lepas dari
genggaman. Badai pasti berlalu. Udara cerah, awan putih, binar-binar mentari di
langit biru menyapaku saat jendela kubuka. Suara sinso dari penebang pohon menambah merdu nyanyian pagi.
”Yah,
pohon duriannya sudah mulai ditebang tu. Gak ada durian runtuh lagi ni kan Yah?
Aman.” Sapaku pada ayah yang serius mengamati kerja penebang pohon.
“Tunggu
ngamuk pula orang baru la dikerjakan.”
“Ayah
suka kali marah-marah. Kalau Ayah marah, jantung Nina mau copot rasanya.”
“Jalur
diplomasi udah ayah buatnya. Datang ayah ke kantor Lurah. Ayah tunggu
kebijakannya. Tak juga diproses. Sampe semalam tu jatuh lagi duriannya. Untung
kita belum tidur. Bocor lagi seng kita. Apa tanggung jawab mereka? Ayah sudah
cukup sabar menjaga hati untuk tidak ngamuk-ngamuk lagi. Dan ini tidak bisa
ditunggu lagi. Ayah hanya ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab terhadap
keluarganya. Itu saja.” Ayah kembali mengenang peristiwa itu. Aku jadi speachless. Ayahku ayahku.
“Karena
sayangnya Ayah pada kalian, Ayah rela menahan malu dan berjuang untuk
keselamatan kalian keluarga Ayah.” Mata ayah berkaca-kaca meluapkan isi
hatinya.
Itulah
ayahku. Selalu ada sensasi baru yang disajikannya. Apapun adanya dirinya kukan
tetap setia menjadi anaknya. Kali ini melalui amukan ayah dan pembelaannya,
Allah kembali menyentuh hati ini. Seringkali disaat lemah dan takut barulah
merengek-rengek lari kepadaNya. Begitu datang rasa aman kembali melenggang
dalam lupa. Berdo’a pun seadanya. Bahkan terkadang lupa menyebutkan nama-nama
orang yang dicintai masuk dalam do’a. Lupa memohon kelembutan hati untuk ayah.
Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Jendela kehidupan, pohon impian
dan awan pengharapan bisa diukir dalam rangkaian kebahagiaan.
Oleh
: Maya Sebrina


0 komentar:
Posting Komentar