Jumat, 05 Oktober 2012

Pembelaan



Di bawah sinar bulan purnama, berbincang tentang pohon impian penuh cinta bersama keluarga. Suasana hangat seperti ini jarang terjadi. Kecuali mati lampu atau televisi rusak. Tak ingin beranjak pergi apalagi tak peduli. Asyik mendengarkan celotehan ayah. Ada saja bahan untuk dijadikan guyonan. Hingga rembulan pun enggan kembali ke peraduannya meski malam sudah semakin larut. Obrolan kami sejenak terhenti. Terdengar suara benda jatuh yang dari gayanya menimpa atap rumah kami. Sangat kuat terdengar dan kami langsung berhamburan ke sumber suara. Yang pertama sampai ayah.
            “Kan betul. Seng kita bocor. Pasti duriannya yang jatuh ini.”
Kami yang mendengarnya saling berpandangan. Khawatir ayah marah. Dan anehnya ayah sama sekali tidak marah melihat kejadian ini. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Tapi obrolan kami berakhir sampai disitu. Karena ayah pergi ke rumah temannya.
            “Perasaan mamak gak enak lo Nin. Jantungnya berdebar-debar terus. Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk.”
“Perasaan Mamak sajanya itu. Yaudah, baca Surat An-Nass dan Ayat Kursi aja Mak. Kadang setan suka sekali menggoda kita yang sedang galau.” Sambil kuelus punggung mamak menenangkan. Tak lama kemudian mamak sudah berlayar di pulau kapuk. Begitu tenang tanpa beban. Tulang pipinya semakin keriput dan kendur. Menggambarkan perjuangan hidup membesarkan kami anaknya. Memberi kehidupan, sekolah yang layak dan kebahagiaan. Demi sebuah pengharapan. Ah, betapa aku mencintainya. Kupeluk ia erat-erat hingga aku tertidur.
***
Pagiku cerahku, matahari tersenyum lebar. Mempersiapkan peralatan perang sebagai bentuk pengabdianku pada negara. Laptop, mukena, mushaf, dan alat tulis sudah berkumpul di tas doraku. Semangat banget hari ini. Menyelesaikan dua lagu untuk membersihkan badan. Satu lagu untuk berhias. Anehnya ada suara tambahan yang tidak asing memanggilku dari depan rumah.
            “Nina,,,,, Ayah mu Nin....”
Betul. Mamak memanggilku. Apa yang terjadi sampai suara mamak sedahsyat itu. Tanpa pikir panjang, kusambar jilbab yang terdekat. Tancap gas menuju sumber suara. Tak kuhiraukan kerikil-kerikil tajam menggoda telapak kaki ku. Ternyata benar. Firasat mamak tadi malam tidak meleset.
            “Ayah,,,,” kulihat ayah sudah ngamuk dan menjerit-jerit di rumah tetangga. Langsung kupeluk erat tubuhnya yang besar.
            “Ayah,,,,jangan marah,,,,malu sama Allah,,,,istighfar Yah,,,,”kupeluk erat-erat tubuh Ayah, kucium pipinya dan tak henti kulafadzkan istigfar di telinganya.
            “Biarkan,,,,biar semua orang tau betapa sakitnya disepelekan. Sudah lama kupendam kecewa ini. Tak satu pun yang mau peduli. Tolong,,,,,tolong,,,,,,tolong,,,,,,” Ayah menjerit sejadinya sambil melempari rumah kami. “Atau kuhancurkan saja rumah ku biar kalian senang. Tolong,,,,tolong,,,,, kek mana la kalau durian itu jatuh terus kena anak dan istri ku yang lagi tidur? Bisa mati mereka....” Emosi ayah semakin memuncak. Aku tetap memeluknya dan beristghfar di telinganya. Tubuhku tak mampu menahan kuatnya rong-rongan ayah. Tapi semangatku membara. Mengalahkan segala kelemahanku. Dan akhirnya ayah terduduk lemas tak berdaya karena melihat wajahku yang pucat pasih menahan guncangan batin yang begitu dahsyat. Kebesaran cinta mengalahkan egonya. Allah mengulurkan tangannya untuk kami. Meski campur marah, ayah berhasil kugiring pulang.
            Sepanjang jalan ayah terus mengamuk dan melempari rumah kami. Seketika kakak sudah berada di kaki ayah dan memohon agar ayah tidak mengamuk lagi. Tapi ayah tak menghiraukannya. Sampai kakak pingsan di jalan. Lunglai tak berdaya, barulah ayah diam seribu bahasa.
            “Tengok lah itu anak mu Bang. Mati la dia itu. Gak ada sayang Abang sama anak-anak ya.” tangis mamak meledak saat melihat kakak pingsan. Ayah terdiam. Tak mampu berkata. Kakak digotong rame-rame oleh para tetangga. Sementara aku masih tetap memeluk ayah. Khawatir dia pergi lagi. Sekarang yang ada di rumah ayah, mamak, aku, kakak, pak Kepling dan wak Banun tetangga kami. Kakak belum sadarkan diri.
            “Tolong lah Pak Kepling, aku mau besok sudah ditebang itu pohon. Sudah pernahnya kubilang sama Bapak. Bahkan sudah kusalam pun pak Lurah. Minta tolong kebijakan dari Lurah atas kasus pohon Durian yang sangat meresahkan jiwa kami.”
            “Iya Mas. Sudah saya bilang sama yang punya durian untuk menebang pohonnya.”
            “Sempat gak ditebangnya besok, jangan salahkan aku membunuh mereka ya Pak.  kubilang atas perintah Pak Kepling dan Pak Lurah. Bapak tengoklah. Yang rajinannya aku. Disuruh apapun aku patuh. Tapi ini lah balasan Bapak.” Terpaksa ayah mengungkit semuanya.
            “Jangan begitu la Mas. Saya janji akan menyelesaikan masalah ini.”
            “Cobalah misalnya ini terjadi pada Bapak. Nyawa anak istri Bapak terancam setiap hari. Berharap durian itu tidak jatuh di malam hari. Sakit rasanya disepelekan Pak. Apa karena kami orang tak punya? Sehingga suara kami tidak didengar?”
            “Saya paham Mas. Saya akan selesaikan ini secepatnya.” Pak Kepling menenangkan.
            “Yaudah, buatkanlah dulu air manis untuk kakakmu Nin. Kasian dia lemas kali Ayah tengok.” Peduli juganya ayah pada keadaan kakak yang seperti kapas putih tak berwarna.   
            Segera kulaksanakan perintahnya. Menuju ruang 3 x 3 yang serba guna. Kutuang air hangat ke cangkir, kutambahkan beberapa sendok gula. Kuaduk hingga larut. Kupastikan kembali kalau airnya sudah siap diminum kakak.
            “Kak, ini air gulanya. Diminum ya biar kak lebih baikan.”
            “Gak mau. Aku puasa. Aku dah gak apa-apa kok. Aku gak tahan aja menyaksikan dan mendengar keributan seperti ini. Aku malu. Hik hik hik.” Sambil menangis kakak mengenang kejadian tadi.
            “Udah jangan dipikirkan lagi. Memang seperti itulah ayah kita. Unik. Dan tidak ada duanya di dunia ini. Kakak pergi kerja juga ni?”
            “Iya la ya. Nina aja yang di rumah jagain ayah ya. Nanti ayah ngamuk lagi gak ada yang menenangkan.” Rayuan maut kakak membuatku luluh. Kuurungkan niatku untuk ngantor hari ini. 
            Sejauh pantauanku, ayah masih aman dan tidak menunjukkan gelagat yang mecurigakan. Sepertinya amarahnya sudah mulai mereda. Mungkin karena besok pohon durian dan pohon-pohon lainnya sesuai perjanjian akan ditebang. Seharian terus-menerus mengintai kemana pun ayah pergi. Sampai ayah tidur pun aku disebelahnya mendampingi. Bulir-bulir bening mengalir deras dari mataku saat memandangnya. Betapa aku mencintainya dan bangga memiliki ayah sepertinya. Begitu besar kasih sayang dan pengorbanannya untuk kami anak-anaknya. Terutama untukku. Segala kebutuhanku sekuat daya upaya dipenuhinya. Bersuara keras pun tak pernah. Tapi kalau keluarganya tersakiti, terancam dan terzhalimi, dia terdepan membela. Tak perduli harga dirinya tergadaikan. Aku setuju dengan tindakannya hari ini. Dengan begitu semua mata terbuka untuk menyelesaikan masalah ini. Kuakui cara ayah yang sangat anarkis memporak porandakan ketenangan tetangga pagi ini. Terus kupandangi hidung mancung, janggut putih berserak, rambut hitam lurus, badan kekar dan kulit keriput hitam legam itu. Kenangan indah bersamanya satu persatu melintas seperti slide show powerpoint saat presentasi. Bulir-bulir bening itu berubah jadi anak sungai yang membanjiri wajahku. Kelopak pun tak mampu membendung. Dan memaksaku memejamkannya hingga akhirnya semua gelap.
***
            Semua masalah yang singgah adalah ujian dari Allah untuk mentarbiyah diriku menjadi insan yang lebih kuat. Seperti selepas malam pasti akan hadir siang. Yang penting menggunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum semua lepas dari genggaman. Badai pasti berlalu. Udara cerah, awan putih, binar-binar mentari di langit biru menyapaku saat jendela kubuka. Suara sinso dari penebang pohon menambah merdu nyanyian pagi.
            ”Yah, pohon duriannya sudah mulai ditebang tu. Gak ada durian runtuh lagi ni kan Yah? Aman.” Sapaku pada ayah yang serius mengamati kerja penebang pohon.
            “Tunggu ngamuk pula orang baru la dikerjakan.”
            “Ayah suka kali marah-marah. Kalau Ayah marah, jantung Nina mau copot rasanya.”
            “Jalur diplomasi udah ayah buatnya. Datang ayah ke kantor Lurah. Ayah tunggu kebijakannya. Tak juga diproses. Sampe semalam tu jatuh lagi duriannya. Untung kita belum tidur. Bocor lagi seng kita. Apa tanggung jawab mereka? Ayah sudah cukup sabar menjaga hati untuk tidak ngamuk-ngamuk lagi. Dan ini tidak bisa ditunggu lagi. Ayah hanya ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Itu saja.” Ayah kembali mengenang peristiwa itu. Aku jadi speachless. Ayahku ayahku.
            “Karena sayangnya Ayah pada kalian, Ayah rela menahan malu dan berjuang untuk keselamatan kalian keluarga Ayah.” Mata ayah berkaca-kaca meluapkan isi hatinya.
            Itulah ayahku. Selalu ada sensasi baru yang disajikannya. Apapun adanya dirinya kukan tetap setia menjadi anaknya. Kali ini melalui amukan ayah dan pembelaannya, Allah kembali menyentuh hati ini. Seringkali disaat lemah dan takut barulah merengek-rengek lari kepadaNya. Begitu datang rasa aman kembali melenggang dalam lupa. Berdo’a pun seadanya. Bahkan terkadang lupa menyebutkan nama-nama orang yang dicintai masuk dalam do’a. Lupa memohon kelembutan hati untuk ayah. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Jendela kehidupan, pohon impian dan awan pengharapan bisa diukir dalam rangkaian kebahagiaan.

                                                                                                            Oleh : Maya Sebrina

0 komentar:

Posting Komentar

Gambar tema oleh andynwt. Diberdayakan oleh Blogger.

Download

 

© My Shape, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography